Kamis, 15 November 2018

Keadaan Emosi Selama Masa Remaja

Keadaan Emosi Selama Masa Remaja
Aida Nurul Fazma Hasibuan


A.Pendahuluan
            Dari mana sebenarnya emosi itu muncul, apakah dari fikiran atau tubuh. Persepsi seseorang tentang emosi berbeda-beda . ada yang mengatakan tindakan tubuh, baru muncul emosi, ada pula yang berpendapat emosi dulu baru muncul tindakan. Mana yang muncul lebih dulu tidaklah begitu penting sebab tindakan dan emosi pada dasarnya sangat erat berkaitan. Karena keduanya merupakan bagian dan keseluruhan.
Meskipun begitu, emosi akan menjadi semakin kuat bila diberi ekspresi fisik. Misalnya saja bila seorang marah, lantas mengepalkan tinju, memaki-maki dan membentak-bentak, dia tidak mengurangi amarahnya, tetapi justru kian menjadi marah. Sebaliknya, bila ia menghadapinya dengan cukup santai dan berupaya mengendorkan otot-ototnya yang tegang, kemarahannya akan segera reda. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gangguan emosional tidak akan timbul, apabila orang dalam keadaan sepenuhnya santai.
Pada hakekatnya, setiap orang itu mempunyai emosi. Dari bangun tidur pagi hari sampai waktu tidur malam hari, kita mengalami macam-macam pengalaman yang menimbulkan berbagai emosi pula. Semua orang memiliki jenis perasaan yang sangat serupa, namun intensitasnya berbeda-beda. Emosi-emosi ini dapat merupakan kecenderungan yang membuat kita frustasi, tetapi juga bisa menjadi modal untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan hidup.

B. Pengertian Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan,” suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai  akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Adapun meningginya emosi terutama karena anak berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu kewaktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru.
Meskipun  emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali dan tampaknya irasional, tetapi pada umumnya dari tahun ketahun terjadi perbaikan perilaku emosional. Menurut Gesell dan kawan-kawan, remaja empat belas tahun sering kali mudah marah, mudah dirangsang, dan emosinya cenderung “meledak” tidak berusahan mengendalikan perasaan. Sebaliknya remaja enam belas tahun mengatakan bahwa mereka “tidak punya keprihatian.” Jadi adanya badai dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang berakhirnya awal masa remaja
Defenisi emosi bermacam-macam, seperti keadaan bergejolak, gangguan keseimbangan, respon kuat dan tidak beraturan terhadap stimulus (Mahmud, 1990:163). Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e-” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal yang mutlak dalam emosi. Pada dasarnya, semua emosi adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah ditanamkan secara berangsur-angsur oleh evolusi (Goleman, 2003:411).
(Goleman, 2003) Potensi emosional sering disebut potensi perasaan. Hal-hal yang perlu dibangun dalam potensi emosional tersebut adalah :
a.       Mengendalikan emosi
b.      Mengerti perasaan orang lain
c.       Senang bekerjasama
d.      Menunda kepuasan sesaat
e.       Berkepribadian stabil
Goleman (2005) membagi aspek kecerdasan emosional menjadi lima aspek dasar, yaitu :
a.       Kesadaran Diri, kemampuan mengetahui yang di rasakan
b.      Pengaturan diri, kemampuan mengatur emosinya sendiri sehingga berdampak positif malaksanakan tugas
c.       Motivasi, kemampuan menggunakan hasrat untuk menggerakkan dan menuntun diri menuju sasaran.
d.      Empati, kemampuan merasakan perasaan orang lain dan mampu memahami perspektif orang lain.
e.       Keterampilan Sosial, kemampuan untuk menanggapi emosi dengan baik ketika berhubungan orang lain, mampu membaca situasi dan jaringan sosial secara cermat, dapat berinteraksi atau bekerja sama dengan lancar.

 C. Hukum Emosi dalam islam
Daniel Goleman (1997:411) menggambarkan bahwa kosakata yang kita miliki tak mampu menyebutkan secara persis keseluruhan emosi yang kita rasakan. Namun, para ahli mencoba mengklasifikasi emosi menjadi dua kelompok besar: emosi dasar (primer emotion) dan emosi campuran (mixed emotion).
Jenis emosi yang telah disepakati oleh para ahli sebagai emosi dasar adalah: emosi senang/bahagia (joy, الابتهاج), marah (anger, الغضب), sedih (sadness, الحزن), takut (fear, الخوف), benci/jijik (disgust, الاشمئزاز), dan heran/kaget (surprise, المفاجأة). Para ahli menyimpulkan bahwa keenam emosi ini yang diidentifikasi dirasakan oleh semua manusia di dunia. Emosi-emosi dasar tersebut adakalanya bercampur antara satu dan yang lain, misalnya antara marah dan benci, heran dan takut, benci dan rindu, dan sebagainya. Percampuran itu bisa terjadi sangat variatif sehingga sulit dipilah dan diberi nama, persis percampuran tiga warna dasar (magenta, biru, kuning) yang memungkinkan terciptanya nuansa warna tak berhingga. Marah atau Amarah adalah salah satu emosi alamiah yang muncul ketika suatu keinginan / kebutuhan tidak terpenuhi karena adanya suatu hambatan. Emosi ini diperlukan agar seseorang terdorong untuk melawan dan berjuang mengatasi hambatan yang merintangi terpenuhinya kebutuhan / keinginan tersebut.
Tingkat kemarahan seseorang dapat diukur berdasarkan tingkat kebutuhan yang terhambat dan tujuannya  dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Jika kemarahan itu terjadi pada saat adanya hambatan yang menghalangi tercapainya suatu tujuan utama kehidupan maka kemarahan tersebut adalah kemarahan yang mulia bahkan merupakan suatu keharusan.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“ Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali ”.(QS.At-Tahriim(66):9).
Kekerasan terhadap orang kafir maupun orang munafik disini timbul bukan karena tanpa sebab. Kaum Muslimin bersikap keras ( marah ) karena perlawanan dan permusuhan mereka terhadap Islam sehingga sulit bagi kaum Muslimin untuk menjalankan hukum Allah. Karena sesungguhnya kebenaran harus ditegakkan dan diperjuangkan. Sebaliknya kemarahan tidaklah harus dengan cara  menyakiti atau mencelakakan orang yang menyebabkan kemarahan tersebut. Rasulullah tidak pernah marah walau disakiti. Disaat beliau marah, bibirnya malah terkatup rapat  bukan mengeluarkan kata-kata yang meledak-ledak. Namun wajah beliau akan berubah menjadi merah padam bila melihat kemungkaran dan hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “ Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”
Alkisah dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib RA hampir memenggal leher lawannya. Tiba-tiba lawannya itu meludahi mukanya. Ali sangat marah. Pada saat itu, ia justru memacu kudanya pergi menjauh dan menyarungkan pedangnya. Ia tidak ingin membunuh lawan karena nafsu amarah. Karena membunuh  dalam peperangan adalah dalam rangka menjalankan perintah Allah untuk menegakkan  keadilan bukan melampiaskan rasa amarah. Sedangkan  kemarahan yang tidak beralasan, yaitu kemarahan yang tidak disebabkan oleh adanya hambatan yang mengancam  terpenuhinya kebutuhan yang mendasar adalah kemarahan yang tercela. 
Dengan demikian emosi marah ( maupun emosi-emosi lain-lain seperti takut, sedih dan juga gembira ) sebetulnya sangat bermanfaat bagi kehidupan selama emosi itu seimbang dan muncul pada saat yang tepat. Al-Quran memerintahkan kita untuk menguasai segala macam bentuk emosi termasuk emosi marah. Emosi yang berlebihan akan mempercepat detak jantung seseorang. Hal ini disebabkan terjadinya kontraksi tekanan darah dalam organ tubuh  sehingga menyebabkan darah mengalir dengan lebih deras. Keadaan seperti ini bila dibiarkan terus-menerus, lama-kelamaan akan membahayakan jantung. Marah yang berlebihan juga dapat meningkatkan produksi hormon adrenalin yang  dapat menyebabkan timbulnya kekuatan yang besar. Kekuatan  inilah yang dikhawatirkan  dapat menyebabkan seseorang melakukan penyerangan fisik dan membahayakan orang yang membangkitkan amarahnya. Disamping itu seseorang pada saat mengalami emosi, produksi getah beningnya  akan berkurang drastis. Kondisi ini dapat mengakibatkan terganggunya proses pencernaan sehingga menyebabkan timbulnya berbagai penyakit lambung .
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤
 “……dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali-Imraan(3):134).       
Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat untuk menahan marah dan  saling memaafkan. Seseorang yang dapat menguasai rasa marah akan menemukan nilai kehidupan tertinggi. Nilai kehidupan ini sepadan dengan “ jihad spiritual ”. Maka siapapun yang berhasil dalam jihad ini maka ia akan mampu menguasai diri dari nafsu syahwat dan segala godaan dunia yang mengepungnya.
Diriwayatkan dari Abu Ayyub, bahwa Rasulullah pernah bersabda :        
“Tidak diperbolehkan bagi kaum Muslim mendiamkan ( saling cemberut ) saudaranya lebih dari tiga hari. Jika mereka bertemu, mereka saling berpaling. Padahal sebaik-baik dari mereka ialah yang memulai perdamaian dengan mengucap salam”. ( HR. Bukhari & Muslim)
D. Penutup
            Setiap manusia memiliki karakteristik emosinya masing-masing yang semuanya itu merupakan suatu bentuk kebesaran Allah SWT sebagai pencipta  manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, emosi memiliki peranan yang penting dalam kehidupan, emosi dapat mendatangkan keburukan ketika kita tidak dapat mengendalikanya dan kebaikan  ketika diri kita dapat mengolahnya dengan baik. Berbagai macam-macam emosi dimiliki manusia sebagai makhluk yang sempurna. Baik buruknya suatu emosi tegantung begaimana kita menyikapinya.
            Emosi berperan dalam proses pembelajaran, karena dalam emosi terdapat energi yang positif dan negatif. Setiap orang  perlu memiliki kecerdasan emosional karena kondisi emosional dapat mempengaruhi pikiran, perkataan, maupun perilaku. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional akan mampu menempatkan emosinya dengan benar. Banyak orang cerdas secara akademik tetapi tidak cerdas dalam mengelola emosi sehingga mengalami kegagalan untuk mencapai tujuannya.


Daftar Pustaka
Goleman, D., (2003). Emotional intelligence (13th ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Bobbi De Porter and mike Hernacki, (1996), Kuantum Learning, London,, Judy Piatkus Publisher
Wiwik Smiyarsih dkk, (2012) Hubungan Antara Kecedasan Emosional dengan Organizational Citzenship Behavior (OCB), Semarang, Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
Elizabeth B. Hurlock, (1980), Psikologi Perkembangan, Jakarta, Penerbit Erlangga
.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar