Keadaan Emosi
Selama Masa Remaja
Aida Nurul Fazma
Hasibuan
A.Pendahuluan
Dari mana sebenarnya emosi itu muncul, apakah dari fikiran
atau tubuh. Persepsi seseorang tentang emosi berbeda-beda . ada yang mengatakan
tindakan tubuh, baru muncul emosi, ada pula yang berpendapat emosi dulu baru
muncul tindakan. Mana yang muncul lebih dulu tidaklah begitu penting sebab tindakan dan emosi pada
dasarnya sangat erat berkaitan. Karena keduanya merupakan bagian dan
keseluruhan.
Meskipun begitu, emosi akan menjadi
semakin kuat bila diberi ekspresi fisik. Misalnya saja bila seorang marah,
lantas mengepalkan tinju, memaki-maki dan membentak-bentak, dia tidak
mengurangi amarahnya, tetapi justru kian menjadi marah. Sebaliknya, bila ia
menghadapinya dengan cukup santai dan berupaya mengendorkan otot-ototnya yang
tegang, kemarahannya akan segera reda. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
gangguan emosional tidak akan timbul, apabila orang dalam keadaan sepenuhnya santai.
Pada hakekatnya, setiap orang itu
mempunyai emosi. Dari bangun tidur pagi hari sampai waktu tidur malam hari,
kita mengalami macam-macam pengalaman yang menimbulkan berbagai emosi pula. Semua
orang memiliki jenis perasaan yang sangat serupa, namun intensitasnya
berbeda-beda. Emosi-emosi ini dapat merupakan kecenderungan yang membuat kita
frustasi, tetapi juga bisa menjadi modal untuk meraih kebahagiaan dan
keberhasilan hidup.
B. Pengertian Emosi
Secara
tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan,” suatu
masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai
akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Adapun meningginya emosi
terutama karena anak berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi
baru. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar juga
bila sebagian besar remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu kewaktu
sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan
harapan sosial yang baru.
Meskipun emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak
terkendali dan tampaknya irasional, tetapi pada umumnya dari tahun ketahun
terjadi perbaikan perilaku emosional. Menurut Gesell dan kawan-kawan, remaja
empat belas tahun sering kali mudah marah, mudah dirangsang, dan emosinya
cenderung “meledak” tidak berusahan mengendalikan perasaan. Sebaliknya remaja
enam belas tahun mengatakan bahwa mereka “tidak punya keprihatian.” Jadi adanya
badai dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang berakhirnya awal masa
remaja
Defenisi
emosi bermacam-macam, seperti keadaan bergejolak, gangguan keseimbangan, respon
kuat dan tidak beraturan terhadap stimulus (Mahmud, 1990:163). Akar kata emosi
adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”,
ditambah awalan “e-” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa
kecenderungan bertindak merupakan hal yang mutlak dalam emosi. Pada dasarnya,
semua emosi adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi
masalah yang telah ditanamkan secara berangsur-angsur oleh evolusi (Goleman,
2003:411).
(Goleman,
2003) Potensi emosional sering disebut potensi perasaan. Hal-hal yang perlu
dibangun dalam potensi emosional tersebut adalah :
a. Mengendalikan
emosi
b. Mengerti
perasaan orang lain
c. Senang
bekerjasama
d. Menunda
kepuasan sesaat
e. Berkepribadian
stabil
Goleman
(2005) membagi aspek kecerdasan emosional menjadi lima aspek dasar, yaitu :
a. Kesadaran
Diri, kemampuan mengetahui yang di rasakan
b. Pengaturan
diri, kemampuan mengatur emosinya sendiri sehingga berdampak positif malaksanakan
tugas
c. Motivasi,
kemampuan menggunakan hasrat untuk menggerakkan dan menuntun diri menuju
sasaran.
d. Empati,
kemampuan merasakan perasaan orang lain dan mampu memahami perspektif orang
lain.
e. Keterampilan
Sosial, kemampuan untuk menanggapi emosi dengan baik ketika berhubungan orang
lain, mampu membaca situasi dan jaringan sosial secara cermat, dapat
berinteraksi atau bekerja sama dengan lancar.
C.
Hukum Emosi dalam islam
Daniel Goleman (1997:411) menggambarkan bahwa kosakata yang
kita miliki tak mampu menyebutkan secara persis keseluruhan emosi yang kita
rasakan. Namun, para ahli mencoba mengklasifikasi emosi menjadi dua kelompok
besar: emosi dasar (primer emotion) dan emosi campuran (mixed
emotion).
Jenis emosi yang telah disepakati oleh para ahli sebagai
emosi dasar adalah: emosi senang/bahagia (joy, الابتهاج), marah (anger, الغضب), sedih (sadness,
الحزن),
takut (fear, الخوف), benci/jijik (disgust, الاشمئزاز), dan heran/kaget (surprise, المفاجأة).
Para ahli menyimpulkan bahwa keenam emosi ini yang diidentifikasi dirasakan
oleh semua manusia di dunia. Emosi-emosi dasar tersebut adakalanya bercampur
antara satu dan yang lain, misalnya antara marah dan benci, heran dan takut,
benci dan rindu, dan sebagainya. Percampuran itu bisa terjadi sangat variatif
sehingga sulit dipilah dan diberi nama, persis percampuran tiga warna dasar
(magenta, biru, kuning) yang memungkinkan terciptanya nuansa warna tak
berhingga. Marah atau Amarah adalah salah satu emosi alamiah yang muncul ketika
suatu keinginan / kebutuhan tidak terpenuhi karena adanya suatu hambatan. Emosi
ini diperlukan agar seseorang terdorong untuk melawan dan berjuang mengatasi
hambatan yang merintangi terpenuhinya kebutuhan / keinginan tersebut.
Tingkat kemarahan seseorang dapat diukur berdasarkan tingkat
kebutuhan yang terhambat dan tujuannya dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
Jika kemarahan itu terjadi pada saat adanya hambatan yang menghalangi
tercapainya suatu tujuan utama kehidupan maka kemarahan tersebut adalah
kemarahan yang mulia bahkan merupakan suatu keharusan.
يَا
أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“ Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang
munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka
Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali ”.(QS.At-Tahriim(66):9).
Kekerasan terhadap orang kafir maupun orang munafik disini
timbul bukan karena tanpa sebab. Kaum Muslimin bersikap keras ( marah ) karena
perlawanan dan permusuhan mereka terhadap Islam sehingga sulit bagi kaum
Muslimin untuk menjalankan hukum Allah. Karena sesungguhnya kebenaran harus
ditegakkan dan diperjuangkan. Sebaliknya kemarahan tidaklah harus dengan
cara menyakiti atau mencelakakan orang yang menyebabkan kemarahan
tersebut. Rasulullah tidak pernah marah walau disakiti. Disaat beliau marah,
bibirnya malah terkatup rapat bukan mengeluarkan kata-kata yang
meledak-ledak. Namun wajah beliau akan berubah menjadi merah padam bila melihat
kemungkaran dan hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA
berkata: “ Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah
karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya
terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”
Alkisah dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib RA
hampir memenggal leher lawannya. Tiba-tiba lawannya itu meludahi mukanya. Ali
sangat marah. Pada saat itu, ia justru memacu kudanya pergi menjauh dan
menyarungkan pedangnya. Ia tidak ingin membunuh lawan karena nafsu amarah.
Karena membunuh dalam peperangan adalah dalam rangka menjalankan perintah
Allah untuk menegakkan keadilan bukan melampiaskan rasa amarah.
Sedangkan kemarahan yang tidak beralasan, yaitu kemarahan yang tidak
disebabkan oleh adanya hambatan yang mengancam terpenuhinya kebutuhan
yang mendasar adalah kemarahan yang tercela.
Dengan demikian emosi marah ( maupun emosi-emosi lain-lain
seperti takut, sedih dan juga gembira ) sebetulnya sangat bermanfaat bagi
kehidupan selama emosi itu seimbang dan muncul pada saat yang tepat. Al-Quran
memerintahkan kita untuk menguasai segala macam bentuk emosi termasuk emosi marah.
Emosi yang berlebihan akan mempercepat detak jantung seseorang. Hal ini
disebabkan terjadinya kontraksi tekanan darah dalam organ tubuh sehingga
menyebabkan darah mengalir dengan lebih deras. Keadaan seperti ini bila
dibiarkan terus-menerus, lama-kelamaan akan membahayakan jantung. Marah yang
berlebihan juga dapat meningkatkan produksi hormon adrenalin yang dapat
menyebabkan timbulnya kekuatan yang besar. Kekuatan inilah yang
dikhawatirkan dapat menyebabkan seseorang melakukan penyerangan fisik dan
membahayakan orang yang membangkitkan amarahnya. Disamping itu seseorang pada
saat mengalami emosi, produksi getah beningnya akan berkurang drastis.
Kondisi ini dapat mengakibatkan terganggunya proses pencernaan sehingga
menyebabkan timbulnya berbagai penyakit lambung .
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤
“……dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali-Imraan(3):134).
Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat untuk menahan
marah dan saling memaafkan. Seseorang yang dapat menguasai rasa marah
akan menemukan nilai kehidupan tertinggi. Nilai kehidupan ini sepadan dengan “
jihad spiritual ”. Maka siapapun yang berhasil dalam jihad ini maka ia akan
mampu menguasai diri dari nafsu syahwat dan segala godaan dunia yang
mengepungnya.
Diriwayatkan
dari Abu Ayyub, bahwa Rasulullah pernah bersabda :
“Tidak diperbolehkan bagi kaum Muslim mendiamkan ( saling
cemberut ) saudaranya lebih dari tiga hari. Jika mereka bertemu, mereka saling
berpaling. Padahal sebaik-baik dari mereka ialah yang memulai perdamaian dengan
mengucap salam”. ( HR. Bukhari & Muslim)
D. Penutup
Setiap
manusia memiliki karakteristik emosinya masing-masing yang semuanya itu merupakan
suatu bentuk kebesaran Allah SWT sebagai pencipta manusia dengan segala kelebihan dan
kekurangan yang dimilikinya, emosi memiliki peranan yang penting dalam
kehidupan, emosi dapat mendatangkan keburukan ketika kita tidak dapat
mengendalikanya dan kebaikan ketika diri
kita dapat mengolahnya dengan baik. Berbagai macam-macam emosi dimiliki manusia
sebagai makhluk yang sempurna. Baik buruknya suatu emosi tegantung begaimana
kita menyikapinya.
Emosi berperan dalam proses
pembelajaran, karena dalam emosi terdapat energi yang positif dan negatif.
Setiap orang perlu memiliki kecerdasan
emosional karena kondisi emosional dapat mempengaruhi pikiran, perkataan,
maupun perilaku. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional akan mampu
menempatkan emosinya dengan benar. Banyak orang cerdas secara akademik tetapi
tidak cerdas dalam mengelola emosi sehingga mengalami kegagalan untuk mencapai
tujuannya.
Daftar
Pustaka
Goleman,
D., (2003). Emotional intelligence (13th ed.). Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Bobbi
De Porter and mike Hernacki, (1996), Kuantum Learning, London,, Judy Piatkus
Publisher
Wiwik
Smiyarsih dkk, (2012) Hubungan Antara Kecedasan Emosional dengan Organizational Citzenship Behavior (OCB),
Semarang, Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
Elizabeth
B. Hurlock, (1980), Psikologi Perkembangan, Jakarta, Penerbit Erlangga
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar