REHABILITASI &
KESEJAHTERAAN SOSIAL
JENIS – JENIS MASALAH
PADA SISWA
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 9
AIDA NURUL FAZMA
ANDINI RAIHAN
ELIA LUMBAN GAOL
TIARA MAULIA ANDIKA
BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
KATA
PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan ke hadirat Tuhan
Yang Maha Esa atas segala nikmat, karunia, dan rahmat-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah Mata Kuliah Rehabilitasi & Kesejahteraan Sosial
dengan judul “Jenis-jenis Masalah Siswa di Sekolah” dengan tepat waktu.
Tujuan
penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Rehabilitasi &
Kesejahteraan Sosial guna menambah wawasan kami tentang masalah-masalah yang
terjadi di sekolah sebagai bekal kami. Kami menyadari bahwa makalah ini
tidaklah sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun selalu kami
harapkan agar kami dapat memperoleh pengetahuan yang lebih luas lagi.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Dan kami
berharap bahwa makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan Anda yang membacanya. Amiin
Medan, September 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN SAMPUL ………………………………………………………………
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………….
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN …….………………………………………………….
1.1
Latar Belakang Masalah ……………………………………………...
1.2
Rumusan Masalah ……………………………………………………
1.3 Tujuan ………………………………………………………………..
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………
2.1
Pengertian dan Ciri-Ciri Masalah……. ………………………………
2.2 Jenis-Jenis
Masalah………………………. …………………………..
2.3 Hal yang bisa dilakukan
untuk mencegah dan menangani
munculnya
permasalahan remaja
............................................................................
BAB III PENUTUP ………………………………………………………………..
3.1 Simpulan …………………………………………………………..
3.2 Saran …………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna.
Kesempurnaan manusia tidak dapat dipisahkan dari masalah. Peran manusia sebagai
makhluk social dan makhluk individu sering kali menciptakan masalah, baik
dengan dirinya sendiri maupun dengan sesamanya, termasuk siswa.
Siswa di sekolah menengah berada pada masa puber atau masa
mencari jati diri. Di masa itulah siswa rentan mengalami masalah. Egoisme yang
tinggi, merasa sudah dewasa sehingga bisa mengatasi masalahnya sendiri. Namun
sebenarnya mereka masih memerlukan bimbingan dari orangtua, guru dan
masyarakat.
Kita sebagai calon seorang guru harus mengetahui jenis-jenis
masalah yang di hadapi siswa, terutama siswa di sekolah menengah yang rentan
dengan masalah. Hal ini bertujuan agar kita memperoleh gambaran secara rinci
mengenai berbagai permasalahan siswa usia SLTP dan SLTA dengan mengaitkan
ciri-ciri perkembangan yang terjadi pada remaja awal hingga akhir. Sehingga
kita mengetahui apa yang harus kita lakukan dan kita berikan ke siswa- siswi
kita nantinya.
Bimbingan dan konseling diharapkan mampu membantu siswa untuk
mandiri sehingga dia mampu untuk mengambil keputusan untuk menyelesaikan
masalahnya.
1.2 Rumusan
Masalah
Dari
latar belakang di atas, rumusan masalah makalah ini adalah :
1. Apa
pengertian dan ciri-ciri masalah?
2. Apa
saja jenis-jenis masalah yang dihadapi siswa di sekolah menengah?
3. Apa saja hal yang bisa dilakukan
untuk mencegah dan menangani
munculnya
permasalahan remaja?
1.3 Tujuan
Tujuan
penulisan makalah ini agar mahasiswa kependidikan mempunyai pemahaman tentang
masalah siswa di sekolah menengah.
BAB II
PEMBAHASAN
( YANG MEMBAHAS
ELIA LUMBAN GAOL )
2.1 Pengertian
Dan Ciri-Ciri Masalah
Dalam
perkembangan dan proses kehidupannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai
permasalahan, baik oleh individu secara perorangan maupun kelompok.
Permasalahan yang dihadapi individu sangat dimungkinkan selain berpengaruh pada
dirinya sendiri juga berpengaruh pada orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Pada
hakekatnya proses pengembangan manusia seutuhnya hendaknya mencapai
pribadi-pribadi yang matang, dengan kemampuan sosial yang baik, kesusilaan yang
tinggi, serta keimanan dan ketakwaan.
Ketidakmampuan
individu untuk mewujudkan perkembangan yang optimal pada keempat dimensi
(individualitas, sosialitas, moralitas, dan religiusitas) tersebut dikarenakan
oleh berbagai permasalahan yang dialami selama proses perkembangannya.
Masalah merupakan sesuatu atau persoalan
yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Masalah yang dibiarkan berkembang dan
tidak segera dipecahkan dapat mengganggu kehidupan dirinya sendiri maupun orang
lain. Adapun ciri-ciri masalah dapat
dikemukakan sebagai berikut:
a.
Masalah
muncul karena ada kesenjangan antara harapan (das Sollen) dan kenyataan
(das sein).
b.
Semakin
besar kesenjangan, maka masalah semakin berat.
c.
Tiap
kesenjangan yang terjadi dapat menimbulkan persepsi yang berbeda.
d.
Masalah
muncul sebagai perilaku yang tidak dikehendaki oleh individu itu sendiri maupun
oleh lingkungan.
e.
Masalah
muncul akibat dari proses belajar yang keliru.
f.
Masalah
memerlukan berbagai pertanyaan dasar ( Basic Question) yang perlu
dijawab
g.
Masalah
dapat bersifat individual maupun kelompok.
2.2 Jenis-Jenis
Masalah ( YANG
MEMBAHAS AIDA NURUL FAZMA DARI PERUBAHAN SIKAP
DAN PERILAKU SAMPAI MASALAH PERILAKU SEKSUAL) ( TIARA
MAULIA ANDIKA MEMBAHAS MASALAH PERILAKU SOSIAL SAMPAI MASALAH KELUARGA )
Ada
pendapat yang mengatakan bahwa hidup dan berkembang itu mengandung resiko.
Perjalanan kehidupan dan proses perkembangan sering kali ternyata tidak mulus,
banyak mengalami berbagai hambatan dan rintangan. Terlebih bagi siswa sekolah
menengah yang berada dalam fase perkembangan remaja, masa dimana individu
mengalami berbagai perubahan baik secara fisik maupun secara psikis.
Hurlock
(1980:192) menuliskan berbagai perubahan sikap dan perilaku sebagai akibat dari
perubahan yang terjadi pada masa puber, yaitu:
a.
Ingin
menyendiri. Jika perubahan pada masa puber sudah mulai terjadi, anak-anak
biasanya mulai menarik diri dari teman-teman dan dari berbagai kegiatan
keluarga, juga sering bertengkar dengan sesama teman bermain. Anak puber lebih
sering melamun, dan mulai bereksperimen seks melalui masturbasi.
b.
Bosan.
Dengan datangnya masa puber, anak mulai merasa bosan dengan sesuatu yang
berhubungan dengan kegiatan atau hobi yang dilakukan pada masa sebelumnya. Pada
masa puber ini biasanya terjadi penurunan prestasi belajar.
c.
Inkoordinasi.
Anak akan mengalami ketidakseimbangan gerakan.
d.
Antagonisme
sosial. Anak puber sering tidak mau kerja sama, sering membantah dan menentang.
Permusuhan terbuka antara dua seks yang berlainan. Pada umumnya diungkapkan
dengan kritik dan komentar-komentar yang cenderung merendahkan.
e.
Emosi
yang meninggi. Kemurungan, merajuk, ledakan amarah yang berlebihan hanya
dikarenakan oleh hal-hal sepele. Pada masa ini anak merasa khawatir, gelisah,
sedih, cepat tersinggung, dan cepat marah.
f.
Hilangnya
kepercayaan diri. Sebagai akibat terjadinya perubahan fisik pada diri anak pada
masa puber ini mengakibatkan anak merasa rendah diri, lebih-lebih bagi anak
yang sering mendapat kritik yang bertubi-tubi tentang dirinya.
Sikap dan perilaku anak yang berada dalam masa puber
tersebut sering mengganggu tugas-tugas perkembangan anak pada fase berikutnya
yaitu pada masa remaja, dan sebagai akibatnya anak akan mengalami gangguan
dalam menjalani kehidupan pada masa remaja. Beberapa masalah yang dialami oleh
remaja:
2.3.1 Masalah
Emosi
Secara
tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan” suatu masa
dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.
Emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang tampak
irasional. Hal ini dapat diliahat dari gejala sepeti
mudah marah dan dirangsang, emosimeledak-ledak, dan tidak mampu mengendalikan
perasaan.
Sekolah sebagai lembaga formal yang diberi tugas dan
tanggung jawab untuk membantu subjek didik menuju ke arah kedewasaan yang
optimal harus mempunyai langkah-langkah konkrit untuk mencegah dan mengatasi
masalah emosional ini. Dalam
layanan bimbingan dan konseling kelompok anak dapat berlatih bagaimana cara
menjadi pendengar yang baik, bagaimana cara mengemukakan masalah, bagaimana
cara mengendalikan diri. Melalui wahan kelompok siswa dapat berlatih
mengendalikan diri.
2.3.2 Masalah Penyesuaian Diri
Salah satu
tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan
penyesuaian sosial. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja
harus membuat banyak penyesuaian baru. Pada fase ini remaja lebih banyak diluar
rumah bersama teman-temannya sebagai kelompok, maka pengaruh teman sebaya dalam
segala pola perilaku, sikap, minat, dan gaya hidupnya lebih besar daripada
pengaruh dari keluarga. Dalam keadaan demikian, remaja cenderung mengikutinya
tanpa memperdulikan berbagai akibat yang akan menimpa dirinya. Kebutuhan akan
penerimaan dirinya dalam kelompok sebaya merupakan kebutuhan yang
dianggap paling penting. Yang menjadi
masalah adalah apabila remaja salah bergaul, misalnya berada dalam kelompok
pemkai obat terlarang, minuman keras dan perilaku negative lainnya.
Untuk itu,
maka sekolah harus ikut membantu tugas-tugas perkembangan remaja tersebut agar
mereka tidak mengalami kesalahan dalam penyesuaian dirinya. Melalui penyediaan
sarana dan prasarana serta fasilitas pembinaan bakat dan minat yang baik, lewat
kegiatan kurikuler maupun kokurikuler di sekolah, untuk mencegah dan mengatasi
kesalahan pergaulan.
2.3.3 Masalah Perilaku Seksual
Tugas
perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubungan dengan kematangan
seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis
dan belajar memerankan peran seks yang diakuinya. Pada masa ini remaja sudah
mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romantis, yang diikuti oleh
keinginan yang kuat unuk memperoleh dukungan dan perhatian dari lawan jenis,
sebagai akibatnya, remaja mempunyai minat yang tinggi pada seks. Seharusnya
mereka mencari atau memperoleh informasi mengenai seluk beluk seks dari orang
tua, tetapi kenyataannya mereka lebih banyak mencari informasi dari
sumber-sumber yang kadang tidak dapat dipertanggunggjawabkan yang kadang lebih
menjurus ke pornografi. Sebagai akibatnya, dapat menimbulkan perilaku seks
remaja yang apabila ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidak layak untuk
dilakukan, seperti ciuman, bercumbu, masturbasi, dan bersenggama. Bahkan
hubungan seks di luar nikah dianggap “benar” apabila orang-orang yang terlibat
saling mencintai dan saling merasa terikat. (Hurlock, 1980:229).
2.3.4 Masalah
Perilaku Sosial
Tanda-tanda
masalah perilaku sosial pada remaja dapat dilihat dari adanya diskriminasi
terhadap mereka yang berlatar belakang ras, agama, atau sosial ekonomi yang
berbeda. Dengan pola-pola perilaku sosial seperti ini, maka dapat melahirkan
geng-geng atau kelompok remaja, yang pembentukannya berdasarkan atas kesamaan latar
belakang, agama, suku, dan sosial ekonomi. Pembentukan kelompok atau geng pada
remaja tersebut dapat memicu terjadinya permusuhan antar kelompok atau geng.
Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah tersebut di atas, sekolah dapat
menyelenggarakan kegiatan kelompok (baik kurikuler maupun kokurikuler) dengan
tidak memperhatikan latar belakang suku, agama, ras, dan sosial ekonomi.
Sekolah harus memperlakukan siswa secara sama, tidak membeda-bedakan siswa yang
satu dengan yang lain.
2.3.5 Masalah Moral
Masalah moral yang terjadi pada remaja ditandai oleh adanya
ketidakmampuan remaja membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini
dapat disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya antar sekolah, keluarga, dan
kelompok remaja. Ketidakmampuan mana yang benar dan mana yang salah dapat
membawa malapetaka bagi kehidupan remaja pada khususnya dan pada semua orang
pada umumnya.
Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah yang demikian, maka
sekolah sebaiknya menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan, untuk
meningkatkan budi pekerti
2.3.4
Masalah Keluarga
Sering ditemukan berbagai masalah
remaja yang penyebab utamanya adalah terjadinya kesalahpahaman antara anak dan
orang tua. Seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1980:233) sebab-sebab umum
pertentangan keluarga selama masa remaja adalah standar perilaku, metode
disiplin, hubungan dengan saudara kandung, sikap yang sangat kritis pada
remaja, dan masalah palang pintu.
Remaja sering menganggap standar
perilaku orang tua yang kuno dan yang modern berbeda. Menurut remaja, orang tua
yang mempunyai standar kuno harus mengikuti standar modern, sedangkan orang tua
tetap pada pendiriannya semula. Keadaan inilah yang sering menjadi sumber
perselisihan di antara mereka. Metode disiplin yang diterapkan oleh orang tua
yang terlalu kaku dan cenderung otoriter dapat menimbulkan permasalahan dan
pertentangan diantara remaja dan orang tua. Salah
satu ciri remaja adalah dimilikinya sikap kritis terhadap segala sesuatu, namun
bagi keluarga tertentu sering tidak menyukai sikap remaja yang terlalu kritis
terhadap pola perilaku orang tua dan terhadap pola perilaku keluarga pada
umumnya. Yang dimaksud dengan masalah palang pintu adalah peraturan keluarga
tentang penetapan jam atau waktu pulang dan mengenai teman-teman dengan siapa
remaja dapat berhubungan, terutama teman lawan jenis. Untuk mencegah dan
mengatasi masalah tersebut,maka sekolah harus meningkatkan kerjasama dengan
orang tua.
( YANG MEMBAHAS ANDINI RAIHAN )
2.3 Hal Yang Bisa Dilakukan
Untuk Mencegah Dan Menangani
Munculnya Permasalahan
Remaja
Secara umum ada beberapa hal yang bisa dilakukan
untuk mencegah
dan menangani munculnya permasalahan remaja, antara lain :
a. Memahami dan mendengarkan keluhan remaja dengan penuh perhatian, pengertian dan
kasih
sayang.
b. Memberikan penghargaan terhadap prestasi studi/prestasi sosial,
seperti olahraga, kesenian
atau
perbuatan-perbuatan baik yang ditunjukkan remaja baik di sekolah maupun
di lingkungan masyarakat
c. Banyak berdiskusi tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan
sosial maupun
lingkungan sekolahnya serta orientasi masa depan yang akan direncanakan remaja.
d. Realistis dan bersikap objektif terhadap anak, sehingga idealnya orang tua mengetahui
kapasitas anak dan mendiskusikan target apa yang ingin dicapai.
e. Mulai menyertakan remaja dalam pengambilan keputusan keluarga. Hal ini
mendidik anak untuk ikut bertanggung jawab dan
melatih mereka dalam proses
problem solving
dan decision making.
f. Mendukung ide-ide remaja yang positif.
g.
Mengawasi kegiatan dan lingkungan sosial remaja secara proporsional, tidak terlalu ketat atapun terlalu longgar.
h.
Jika ada indikasi ketidakberesan yang serius, baik dalam segi fisik ataupun psikologis
yang cukup mencolok segera konsultasikan dengan tenaga
ahli seperti dokter atau psikolog.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Pada hakekatnya, setiap manusia senantiasa ingin
mewujudkan kebahagiaan dalam hidupnya. Akan tetapi pada kenyataannya, manusia
sangat mungkin menemui berbagai permasalahan yang dapat menghambat dan
menggangu tercapainya kebahagaiaan tersebut. Demikian juag bagi subjek didik
yang berada pada tingkat pendidikan sekolah menengah yang sedang berada dalam
fase masa perkembangan remaja juga mengalami berbagai permasalahan hidup, yang
apabila dibiarkan akan mengganggu dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan
yang sedang dilaluinya. Terdapat berbagai jenis masalah yang dialami oleh siswa
sekolah menengah, diantaranya adalah masalah yang berhubungan dengan
dimensi-dimensi kehidupan remaja, yaitu masalah yang bersifat individualitas,
sosialitas moraritas, dan keagamaan serta ketakwaan. Dengan demikian, kehadiran
layanan bimbingan dan konseling (BK) dalam sekolah, khususnya pada sekolah
menengah ini sangat bermanfaat demi tercapainya kehidupan peserta didik yang
lebih baik dan agar peserta didik mampu mengoptimalkan potensi yang
dimilikinya. Namun, kewenangan seorang konselor untuk membantu konselinya dalam
menyelesaikan masalah berada dalam kriteria masalah yang masih normal, bukan
kriteria masalah yang sudah abnormal.
3.2 Saran
Sebagai
seorang guru harus memahami jenis-jenis masalah yang dihadapi siswa di sekolah
menengah agar mampu membantu siswa dalam menyelesaikan masalahnya. Harapanya
bimbingan dan konseling yang diberikan kepada siswa mampu menjadikan siswa
untuk berperilaku mandiri, sehingga siswa tidak senantiasa menggantukan dirinya
kepada orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar