Sabtu, 04 April 2015

JENIS – JENIS MASALAH PADA SISWA



REHABILITASI &  KESEJAHTERAAN SOSIAL

JENIS – JENIS MASALAH
PADA SISWA

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 9
AIDA NURUL FAZMA
ANDINI RAIHAN
ELIA LUMBAN GAOL
TIARA MAULIA ANDIKA

BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN


KATA PENGANTAR

            Segala puji kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat, karunia, dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Mata Kuliah Rehabilitasi & Kesejahteraan Sosial dengan judul “Jenis-jenis Masalah Siswa di Sekolah” dengan tepat waktu.
            Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Rehabilitasi & Kesejahteraan Sosial guna menambah wawasan kami tentang masalah-masalah yang terjadi di sekolah sebagai bekal kami. Kami menyadari bahwa makalah ini tidaklah sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun selalu kami harapkan agar kami dapat memperoleh pengetahuan yang lebih luas lagi.
            Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Dan kami berharap bahwa makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan Anda yang membacanya. Amiin

                                                                                                   Medan, September 2014


                                                                                                   Penulis


DAFTAR ISI


HALAMAN SAMPUL ………………………………………………………………     
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………….     
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………     
BAB I       PENDAHULUAN …….………………………………………………….     
                  1.1 Latar Belakang Masalah ……………………………………………...     
1.2  Rumusan Masalah  ……………………………………………………     
1.3 Tujuan  ………………………………………………………………..     
BAB II      PEMBAHASAN …………………………………………………………     
2.1  Pengertian dan Ciri-Ciri Masalah…….  ………………………………     
2.2  Jenis-Jenis Masalah………………………. …………………………..
2.3  Hal  yang  bisa  dilakukan untuk mencegah dan menangani munculnya  
permasalahan remaja ............................................................................
BAB III    PENUTUP ………………………………………………………………..     
3.1  Simpulan      …………………………………………………………..     
3.2  Saran  …………………………………………………………………     
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………..                 









BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia tidak dapat dipisahkan dari masalah. Peran manusia sebagai makhluk social dan makhluk individu sering kali menciptakan masalah, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan sesamanya, termasuk siswa.
Siswa di sekolah menengah berada pada masa puber atau masa mencari jati diri. Di masa itulah siswa rentan mengalami masalah. Egoisme yang tinggi, merasa sudah dewasa sehingga bisa mengatasi masalahnya sendiri. Namun sebenarnya mereka masih memerlukan bimbingan dari orangtua, guru dan masyarakat.
Kita sebagai calon seorang guru harus mengetahui jenis-jenis masalah yang di hadapi siswa, terutama siswa di sekolah menengah yang rentan dengan masalah. Hal ini bertujuan agar kita memperoleh gambaran secara rinci mengenai berbagai permasalahan siswa usia SLTP dan SLTA dengan mengaitkan ciri-ciri perkembangan yang terjadi pada remaja awal hingga akhir. Sehingga kita mengetahui apa yang harus kita lakukan dan kita berikan ke siswa- siswi kita nantinya.
Bimbingan dan konseling diharapkan mampu membantu siswa untuk mandiri sehingga dia mampu untuk mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalahnya.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, rumusan masalah makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian dan ciri-ciri masalah?
2.      Apa saja jenis-jenis masalah yang dihadapi siswa di sekolah menengah?
3.      Apa saja hal  yang  bisa  dilakukan untuk mencegah dan menangani munculnya
permasalahan remaja?

1.3  Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini agar mahasiswa kependidikan mempunyai pemahaman tentang masalah siswa di sekolah menengah.





BAB II
PEMBAHASAN
( YANG MEMBAHAS ELIA LUMBAN GAOL )
2.1  Pengertian Dan Ciri-Ciri Masalah
Dalam perkembangan dan proses kehidupannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan, baik oleh individu secara perorangan maupun kelompok. Permasalahan yang dihadapi individu sangat dimungkinkan selain berpengaruh pada dirinya sendiri juga berpengaruh pada orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Pada hakekatnya proses pengembangan manusia seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang matang, dengan kemampuan sosial yang baik, kesusilaan yang tinggi, serta keimanan dan ketakwaan.
Ketidakmampuan individu untuk mewujudkan perkembangan yang optimal pada keempat dimensi (individualitas, sosialitas, moralitas, dan religiusitas) tersebut dikarenakan oleh berbagai permasalahan yang dialami selama proses perkembangannya.
Masalah merupakan sesuatu atau persoalan yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Masalah yang dibiarkan berkembang dan tidak segera dipecahkan dapat mengganggu kehidupan dirinya sendiri maupun orang lain. Adapun ciri-ciri masalah dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.       Masalah muncul karena ada kesenjangan antara harapan (das Sollen) dan kenyataan (das sein).
b.      Semakin besar kesenjangan, maka masalah semakin berat.
c.       Tiap kesenjangan yang terjadi dapat menimbulkan persepsi yang berbeda.
d.      Masalah muncul sebagai perilaku yang tidak dikehendaki oleh individu itu sendiri maupun oleh lingkungan.
e.       Masalah muncul akibat dari proses belajar yang keliru.
f.       Masalah memerlukan berbagai pertanyaan dasar ( Basic Question) yang perlu dijawab
g.      Masalah dapat bersifat individual maupun kelompok.








2.2  Jenis-Jenis Masalah ( YANG MEMBAHAS AIDA NURUL FAZMA DARI PERUBAHAN SIKAP DAN PERILAKU SAMPAI MASALAH PERILAKU SEKSUAL) ( TIARA MAULIA ANDIKA MEMBAHAS MASALAH PERILAKU SOSIAL SAMPAI MASALAH KELUARGA )
Ada pendapat yang mengatakan bahwa hidup dan berkembang itu mengandung resiko. Perjalanan kehidupan dan proses perkembangan sering kali ternyata tidak mulus, banyak mengalami berbagai hambatan dan rintangan. Terlebih bagi siswa sekolah menengah yang berada dalam fase perkembangan remaja, masa dimana individu mengalami berbagai perubahan baik secara fisik maupun secara psikis.
Hurlock (1980:192) menuliskan berbagai perubahan sikap dan perilaku sebagai akibat dari perubahan yang terjadi pada masa puber, yaitu:
a.       Ingin menyendiri. Jika perubahan pada masa puber sudah mulai terjadi, anak-anak biasanya mulai menarik diri dari teman-teman dan dari berbagai kegiatan keluarga, juga sering bertengkar dengan sesama teman bermain. Anak puber lebih sering melamun, dan mulai bereksperimen seks melalui masturbasi.
b.      Bosan. Dengan datangnya masa puber, anak mulai merasa bosan dengan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan atau hobi yang dilakukan pada masa sebelumnya. Pada masa puber ini biasanya terjadi penurunan prestasi belajar.
c.       Inkoordinasi. Anak akan mengalami ketidakseimbangan gerakan.
d.      Antagonisme sosial. Anak puber sering tidak mau kerja sama, sering membantah dan menentang. Permusuhan terbuka antara dua seks yang berlainan. Pada umumnya diungkapkan dengan kritik dan komentar-komentar yang cenderung merendahkan.
e.       Emosi yang meninggi. Kemurungan, merajuk, ledakan amarah yang berlebihan hanya dikarenakan oleh hal-hal sepele. Pada masa ini anak merasa khawatir, gelisah, sedih, cepat tersinggung, dan cepat marah.
f.       Hilangnya kepercayaan diri. Sebagai akibat terjadinya perubahan fisik pada diri anak pada masa puber ini mengakibatkan anak merasa rendah diri, lebih-lebih bagi anak yang sering mendapat kritik yang bertubi-tubi tentang dirinya.







Sikap dan perilaku anak yang berada dalam masa puber tersebut sering mengganggu tugas-tugas perkembangan anak pada fase berikutnya yaitu pada masa remaja, dan sebagai akibatnya anak akan mengalami gangguan dalam menjalani kehidupan pada masa remaja. Beberapa masalah yang dialami oleh remaja:

2.3.1 Masalah Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan” suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang tampak irasional. Hal ini dapat diliahat dari gejala sepeti mudah marah dan dirangsang, emosimeledak-ledak, dan tidak mampu mengendalikan perasaan.
Sekolah sebagai lembaga formal yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk membantu subjek didik menuju ke arah kedewasaan yang optimal harus mempunyai langkah-langkah konkrit untuk mencegah dan mengatasi masalah emosional ini. Dalam layanan bimbingan dan konseling kelompok anak dapat berlatih bagaimana cara menjadi pendengar yang baik, bagaimana cara mengemukakan masalah, bagaimana cara mengendalikan diri. Melalui wahan kelompok siswa dapat berlatih mengendalikan diri.

2.3.2 Masalah Penyesuaian Diri
Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Pada fase ini remaja lebih banyak diluar rumah bersama teman-temannya sebagai kelompok, maka pengaruh teman sebaya dalam segala pola perilaku, sikap, minat, dan gaya hidupnya lebih besar daripada pengaruh dari keluarga. Dalam keadaan demikian, remaja cenderung mengikutinya tanpa memperdulikan berbagai akibat yang akan menimpa dirinya. Kebutuhan akan penerimaan dirinya dalam kelompok sebaya merupakan kebutuhan yang  dianggap paling penting. Yang menjadi masalah adalah apabila remaja salah bergaul, misalnya berada dalam kelompok pemkai obat terlarang, minuman keras dan perilaku negative lainnya.
Untuk itu, maka sekolah harus ikut membantu tugas-tugas perkembangan remaja tersebut agar mereka tidak mengalami kesalahan dalam penyesuaian dirinya. Melalui penyediaan sarana dan prasarana serta fasilitas pembinaan bakat dan minat yang baik, lewat kegiatan kurikuler maupun kokurikuler di sekolah, untuk mencegah dan mengatasi kesalahan pergaulan.
2.3.3 Masalah Perilaku Seksual
Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubungan dengan kematangan seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan belajar memerankan peran seks yang diakuinya. Pada masa ini remaja sudah mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romantis, yang diikuti oleh keinginan yang kuat unuk memperoleh dukungan dan perhatian dari lawan jenis, sebagai akibatnya, remaja mempunyai minat yang tinggi pada seks. Seharusnya mereka mencari atau memperoleh informasi mengenai seluk beluk seks dari orang tua, tetapi kenyataannya mereka lebih banyak mencari informasi dari sumber-sumber yang kadang tidak dapat dipertanggunggjawabkan yang kadang lebih menjurus ke pornografi. Sebagai akibatnya, dapat menimbulkan perilaku seks remaja yang apabila ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidak layak untuk dilakukan, seperti ciuman, bercumbu, masturbasi, dan bersenggama. Bahkan hubungan seks di luar nikah dianggap “benar” apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai dan saling merasa terikat. (Hurlock, 1980:229).

2.3.4 Masalah Perilaku Sosial
            Tanda-tanda masalah perilaku sosial pada remaja dapat dilihat dari adanya diskriminasi terhadap mereka yang berlatar belakang ras, agama, atau sosial ekonomi yang berbeda. Dengan pola-pola perilaku sosial seperti ini, maka dapat melahirkan geng-geng atau kelompok remaja, yang pembentukannya berdasarkan atas kesamaan latar belakang, agama, suku, dan sosial ekonomi. Pembentukan kelompok atau geng pada remaja tersebut dapat memicu terjadinya permusuhan antar kelompok atau geng. Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah tersebut di atas, sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan kelompok (baik kurikuler maupun kokurikuler) dengan tidak memperhatikan latar belakang suku, agama, ras, dan sosial ekonomi. Sekolah harus memperlakukan siswa secara sama, tidak membeda-bedakan siswa yang satu dengan yang lain.
2.3.5 Masalah Moral
         Masalah moral yang terjadi pada remaja ditandai oleh adanya ketidakmampuan remaja membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya antar sekolah, keluarga, dan kelompok remaja. Ketidakmampuan mana yang benar dan mana yang salah dapat membawa malapetaka bagi kehidupan remaja pada khususnya dan pada semua orang pada umumnya.
Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah yang demikian, maka sekolah sebaiknya menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan, untuk meningkatkan budi pekerti

2.3.4 Masalah Keluarga
Sering ditemukan berbagai masalah remaja yang penyebab utamanya adalah terjadinya kesalahpahaman antara anak dan orang tua. Seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1980:233) sebab-sebab umum pertentangan keluarga selama masa remaja adalah standar perilaku, metode disiplin, hubungan dengan saudara kandung, sikap yang sangat kritis pada remaja, dan masalah palang pintu.
Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern berbeda. Menurut remaja, orang tua yang mempunyai standar kuno harus mengikuti standar modern, sedangkan orang tua tetap pada pendiriannya semula. Keadaan inilah yang sering menjadi sumber perselisihan di antara mereka. Metode disiplin yang diterapkan oleh orang tua yang terlalu kaku dan cenderung otoriter dapat menimbulkan permasalahan dan pertentangan diantara remaja dan orang tua. Salah satu ciri remaja adalah dimilikinya sikap kritis terhadap segala sesuatu, namun bagi keluarga tertentu sering tidak menyukai sikap remaja yang terlalu kritis terhadap pola perilaku orang tua dan terhadap pola perilaku keluarga pada umumnya. Yang dimaksud dengan masalah palang pintu adalah peraturan keluarga tentang penetapan jam atau waktu pulang dan mengenai teman-teman dengan siapa remaja dapat berhubungan, terutama teman lawan jenis. Untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut,maka sekolah harus meningkatkan kerjasama dengan orang tua.




( YANG MEMBAHAS ANDINI RAIHAN )
2.3  Hal  Yang  Bisa  Dilakukan Untuk Mencegah Dan Menangani Munculnya Permasalahan
Remaja
Secara  umum  ada  beberapa  hal  yang  bisa  dilakukan untuk mencegah dan menangani munculnya permasalahan remaja, antara lain :   
a.       Memahami  dan  mendengarkan  keluhan  remaja  dengan  penuh perhatian, pengertian  dan
kasih sayang.  
b.      Memberikan penghargaan terhadap prestasi studi/prestasi sosial, seperti olahraga, kesenian
atau perbuatan-perbuatan baik yang ditunjukkan  remaja baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat
c.       Banyak berdiskusi tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan sosial maupun
lingkungan  sekolahnya  serta  orientasi  masa  depan  yang  akan direncanakan remaja.
d.      Realistis  dan  bersikap  objektif  terhadap  anak,  sehingga  idealnya orang  tua mengetahui kapasitas anak dan mendiskusikan target apa yang ingin dicapai. 
e.       Mulai  menyertakan  remaja  dalam  pengambilan  keputusan  keluarga. Hal  ini
mendidik  anak  untuk  ikut  bertanggung  jawab  dan melatih mereka  dalam proses
problem solving dan decision making. 
f.       Mendukung ide-ide remaja yang positif. 
g.      Mengawasi  kegiatan  dan  lingkungan  sosial  remaja  secara proporsional,  tidak terlalu    ketat atapun terlalu longgar.
h.      Jika  ada  indikasi  ketidakberesan  yang  serius,  baik  dalam  segi  fisik ataupun psikologis  yang cukup mencolok segera konsultasikan dengan  tenaga ahli seperti dokter atau psikolog.










BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Pada hakekatnya, setiap manusia senantiasa ingin mewujudkan kebahagiaan dalam hidupnya. Akan tetapi pada kenyataannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan yang dapat menghambat dan menggangu tercapainya kebahagaiaan tersebut. Demikian juag bagi subjek didik yang berada pada tingkat pendidikan sekolah menengah yang sedang berada dalam fase masa perkembangan remaja juga mengalami berbagai permasalahan hidup, yang apabila dibiarkan akan mengganggu dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang sedang dilaluinya. Terdapat berbagai jenis masalah yang dialami oleh siswa sekolah menengah, diantaranya adalah masalah yang berhubungan dengan dimensi-dimensi kehidupan remaja, yaitu masalah yang bersifat individualitas, sosialitas moraritas, dan keagamaan serta ketakwaan. Dengan demikian, kehadiran layanan bimbingan dan konseling (BK) dalam sekolah, khususnya pada sekolah menengah ini sangat bermanfaat demi tercapainya kehidupan peserta didik yang lebih baik dan agar peserta didik mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Namun, kewenangan seorang konselor untuk membantu konselinya dalam menyelesaikan masalah berada dalam kriteria masalah yang masih normal, bukan kriteria masalah yang sudah abnormal.

3.2  Saran
Sebagai seorang guru harus memahami jenis-jenis masalah yang dihadapi siswa di sekolah menengah agar mampu membantu siswa dalam menyelesaikan masalahnya. Harapanya bimbingan dan konseling yang diberikan kepada siswa mampu menjadikan siswa untuk berperilaku mandiri, sehingga siswa tidak senantiasa menggantukan dirinya kepada orang lain.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar